Meskipun banyak para ahli kesehatan di bidang kanker meremehkan khasiat
teh hijau, tetapi minuman popular tersebut tetap menunjukkan secara
perlahan kemampuannya sebagai senjata terhadap berbagai penyakit.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa teh hijau dapat membantu penderita
kanker payudara & prostat, serta kanker mulut. Di Amerika serikat,
setidaknya 30.000 orang di diagnosa menderita kanker mulut setiap tahun,
dengan angka harapan hidup 5 tahun kurang dari 50 %, maka berita
tersebut dapat memberikan harapan pada penderita kanker mulut.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari teh hijau, para peneliti menggunakan konsentrat dari teh hijau yang disebut dengan green tea extract
(GTE). Seperti halnya minuman teh hijau, GTE ini juga kaya akan
kandungan polifenol, suatu zat dari tumbuhan yang mempunyai efek sebagai
antioksidan bagi tubuh. Kandungan dari polifenol yang berkhasiat untuk
membunuh sel kanker adalah EGCG (epigallocatechin 2-gallate).
Penelitian
terbaru dari penelitian mengenai pencegahan kanker, menemukan bahwa
orang yang beresiko tinggi untuk menderita kanker mulut (konsumsi
alkohol & rokok secara berlebihan merupakan 2 faktor utama penyebab
kanker mulut), dapat mengambil manfaat dari GTE tersebut, terutama pada
dosis yang tinggi. Pada penelitan yang acak & terkontrol, peneliti
dari University of Texas MD Anderson Cancer Center merekrut 41 orang
dengan lesi pra kanker pada mulutnya.
Para partisipan tersebut
secara acak dibagi menjadi 4 kelompok. 3 dari kelompok tersebut
mengkonsumsi GTE dengan dosis yang berbeda, yaitu 500 mg, 750 mg &
1000 mg, sebanyak 3 kali sehari. Kelompok ke-4 mengkonsumsi placebo.
Selama penelitian, para sukarelawan mendapatkan 2 kali biopsi, pertama
saat awal penelitian, kedua 12 minggu kemudian, hal ini untuk memudahkan
para peneliti untuk melihat apakah GTE dapat bekerja atau tidak, &
kenapa.
Pada akhir penelitian, hampir 60 % dari partisipan yang
mengkonsumsi dosis tertinggi dari GTE yang secara kasar sebanding dengan
8-10 gelas teh hijau setiap hari, menunjukkan respon klinik, artinya
lesi pra kanker mereka menjadi lebih baik dibandingkan mereka yang
menggunakan placebo. “ Meskipun masih awal, tetapi hasil ini dapat
mendorong untuk dilakukannya penelitan lain bagi para pasien yang
mempunyai resiko tinggi terkena kanker mulut” demikian kata Vassiliki
Papadimitrakopoulou, MD, peneliti senior yang juga pengarang buku The extract's lack of toxicity is attractive.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar